Friday, July 02, 2004

Melankolik

Orang yang memiliki temperamen melankolik adalah orang yang memiliki kecakapan dan bakat-bakat yang bermutu. Presentase orang jenius yang bertemperamen melankolik jauh lebih tinggi dibanding dengan orang-orang yang bertemperamen lain. Bukti bahwa orang-orang melankolik kaya dengan banyak kemampuan dapat kita lihat dalam kehidupan tokoh-tokoh Alkitab, seperti: Yakub, Salomo, Elia, Yesaya, Daniel, Yehezkiel, Obaja, Yunus, Yohanes Pembaptis, rasul Yohanes, Musa, dll. Bila mereka diberi satu tanggung jawab untuk menyelesaikan satu pekerjaan, mereka akan bekerja keras untuk memenuhi batas waktu dan standar tinggi yang mereka buat sendiri. Oleh karena itu mereka dapat diandalkan untuk menyelesaikan tugas-tugas tepat waktu karena mereka adalah orang-orang yang sangat disiplin.

Orang melankolik tidak mudah menjalin tali persahabatan dengan orang lain, tetapi ia akan sangat setia kepada orang-orang yang akrab dengannya. Sifat khas ini membuat orang-orang melankolik sangat berbakti kepada Allah bila mereka sudah dipenuhi oleh Roh Kudus.
Sifat rela berkorban dari orang-orang melankolik membuat mereka sering mengabdikan diri pada pekerjaan yang menuntut banyak pengorbanan diri. Sifat khas ini menjelaskan kenyataan mengapa banyak hamba-hamba Tuhan dan dokter yang bertemperamen melankolik, dan dari antara hamba-hamba Tuhan tersebut banyak yang begitu berbakat di dunia sekuler bersedia meninggalkan semua prestasi yang telah dicapainya dan mengabdi kepada Tuhan Yesus Kristus. Misalnya Musa, sebagai anak angkat puteri Firaun ia menjadi orang kedua sesudah Firaun. Tetapi Musa memilih untuk "menderita sengsara dengan umat Allah" suatu keputusan yang amat rela berkorban (Ibrani 11:24-25). Kalau kita mengamati dengan baik dalam seluruh sejarah hidup Musa, maka kita akan dapat melihat dengan jelas sifat-sifat dari orang yang bertemperamen melankolik yang kuat di dalam diri Musa, bagaimana sifat-sifat tersebut sebelum dia berserah kepada Allah dan bagaimana kuasa Roh Kudus menguatkan setiap kelemahan Musa yang melankolik setelah dia berserah kepada Allah dengan jelas sekali dapat kita baca dalam kitab Keluaran 1-20; 24:9-18; 32-34 dan di dalam kitab Bilangan.

Sifat pembawaan mereka yang perfeksionis (ingin segalanya sempurna), sangat perasa, pemurung, suka mencela/mengkritik, suka menyendiri, pesimistis, cenderung berpusat pada diri sendiri, cenderung mengikuti perasaan hatinya yang berubah-ubah, dan sifat merendah yang berlebih-lebihan membuat mereka menjadi orang-orang yang tidak percaya diri, tidak memiliki keyakinan, sulit menerima pujian, sulit untuk merasa puas atas apa yang mereka lakukan atau orang lain lakukan, sangat larut dengan kesalahan-kesalahannya dan mengabaikan keberhasilannya, suka mencela, mudah tersinggung, sering memendam sakit hati dan dendam untuk jangka waktu yang lama, akibatnya kecakapan dan bakat-bakat mereka yang bermutu tersebut menjadi tidak kelihatan sama sekali.

Sukacita merupakan kebutuhan mutlak bagi setiap orang melankolik untuk menggantikan emosinya yang biasanya murung, dan suka mengeluh. Damai sejahtera dari Roh Kudus merupakan obat kuat bagi orang melankolik, yang perasaannya sangat sensitif, dari kecenderungan mencela, curiga dan dendam. Dan iman akan membuat dia keluar dari rasa tidak percaya dirinya. Orang-orang melankolik, semakin dewasa (kecuali dipenuhi dengan Roh Kudus), ia makin cenderung mengalami suasana hati yang muram, cepat marah, tidak bersukacita, dan tidak mungkin disenangkan. Suasana hati seperti ini menyebabkan ia mudah terserang depresi. Musa, Elia, dan Yunus adalah tiga hamba Allah yang besar yang pernah mengalami depresi sehingga kehilangan semangat untuk hidup dan memohon kepada Allah supaya diizinkan mati (1 Raj 19: Yunus 4:1-3).

0 Comments:

Post a Comment

<< Home